Enam Tahun yang lalu..

“Otsukaresamadeshita!”

Enam tahun yang lalu, hunting “randoseru” dari internet untuk sulung. Alhamdulillah dapat harga yang cocok. 

Di hari terakhir dia sekolah, pegangan lenggannya putus. Wakil kepala sekolah turut perbaiki dan Alhamdulillah sulung bisa bawa pulang tas berisi buku-buku berat dengan tas tetap dipunggung :).

  

Enam tahun yang lalu, saya menjahit tas-tas biru bermotif kain motif dinosaurus dan mobil kesukaan sulung. 
Untuk isi baju olahraga, sepatu indoor, buku perpustakaan, peralatan menulis dan olahraga. 

Alhamdulillah semua masih utuh, walau warnanya sudah pudar termakan usia dan sering dicuci.
Alhamdulillah “randoseru” dan tas-tas kain ini menjadi kenangan indah selama enam tahun menemani sulung sekolah di SD Miyatake.
Otsukaresamadeshita. 

Ishikawa, Maret 2016.

Kemping untuk anak kelas lima dan enam

Ada rangkaian diskusi dengan wali kelas sebelum keberangkatan sulung untuk acara school trip ke noto dua hari semalam dan keberangkatan anak kedua training camp ke hakusan dua hari semalam.
Diskusi pertama menyampaikan sholat lima waktu yang dilakukan dalam sehari. Diskusi kedua menyampaikan request mandi privacy, bukan ofuro bersama.
Diskusi ketiga seputar menu makanan yang kami cek apakah aman dikonsumi untuk kami sebagai muslim. JIka tidak aman, kami menyiapkan jenis makanan halal pengganti yang disiapkan dari rumah.
Alhamdulillah keduanya dapat mengikuti rangkaian acara lengkap sesuai schedule sekolah. Acara hiking, kimodameshi (jurit malam), mendayung perahu, hasil cerita dari anak kedua.
Acara “ichigo gari” memetik strawberry di kebun, jalan-jalan ke notojima aquarium, berbelanja di pasar pagi wajima, cerita dari sulung.
Ada satu acara yang dari awal sensei sudah mengizinkan tidak mengikut, yaitu acara kunjungan ke kuil. Sebagai pengganti, sulung ditemani wakil kepala sekolah jalan-jalan ke museum barang-barang sejarah.
Alhamdulillah keduanya kembali dengan selamat dan semangat baru serta pengalaman baru.
Latihan buat Umminya ditinggal dua hari semalam oleh sulung di akhir bulan Mei dan gantian ditinggal anak kedua dua hari semalam di awal bulan Juni.
Saat mereka berangkat, rasanya hari berjalan begitu lambat. Mengingatkan saya untuk memaksimalkan pertemuan sehari-hari dengan mereka yang masih tinggal bersama. Ada masanya suatu saat saya harus kuat melepas mereka pergi mennggapai cita-cita dalam ridho-Nya, insya Allah.
-Catatan Ibu、修学旅行、合宿-

Service Area Jalan Tol di Jepang

Service Area jalan tol dengan pemandangan indahnya Biwako membuat banyak penumpang tertarik mampir.
Tak terelakan, saat keluar SA jalan kendaraan merayap mengikuti arus balik golden week.
Alhamdulillah tiba dengan selamat di tempat kediaman.

Otsukaresamadeshita Mas.

(Oleh-oleh Golden Week Jepang 2015)

Bentou Sekolah Anak-anak

Mulai April 2015 ini, bungsu pun sudah sekolah. Jadilah jumlah bentou yang harus dikirim dan dibuat ada empat.

Semoga tugas menjadi koki sekaligus kurir bentou anak-anak senantiasa berjalan lancar, Amiin.

Menu: Nasi, ikan sawara goreng tepung, salad sayuran, semur daging dan kentang.

  Menu: Nasi, gudeg ayam, sayur sop

Resep Roti Melon “メロンパン”

IMG_3733-0

Salah satu cara membahagiakan anak-anak^^.

Alhamdulillah masing-masing anak dapat lebih dari satu roti^^.

Bahan roti:
Terigu protein tinggi: 150 gr
Butter 15 gr
Gula putih 17 gr
Skim milk 6 gr
Garam 2,5 gr
Air dingin 90 ml
Dry yeast 2,1 gr

Bahan cookies (roti bagian atas):
Butter 50 gr
Gula 40 gr
Telur 25 gr
Tepung hot cake 100 gr
Vanilla essence sedikit
Gula putih kasar (untuk taburan)

-resepyayujapan-

Solusi Menyapih Anak Keempat dengan Mudik

Tepat saat usia sudah dua tahun, akhir Maret 2014, saya mulai menyapihnya. Ia adalah anak keempat kami. Tiga kakak-kakaknya sudah masuk Sekolah Dasar. Bulan April ketiganya mulai menjalani sebagai siswa kelas 5,4 dan 3. Menyapih anak keempat, rasanya seperti kembali menyapih anak pertama. Perlu proses yang agak panjang dan melepaskan kelengketannya saat menjelang dan saat tidur.

Bulan April, 2014, tahun ajaran baru bagi ketiga kakaknya, tahun ajaran baru memulai proses menyapih untuk anak keempat. Baru saja dimulai menyapih di siang hari. Mulai menyusun strategi kala ia minta ASI, saya selalu siapkan makanan yang mengenyangkan dan camilan dan minum yang cukup. Tiba-tiba si kecil sakit panas yang berkepanjangan. Ia mulai tidak doyan makan dan mulai sering menangis di siang dan malam hari. Keinginannya hanya satu, minum ASI! Makanan, bahkan camilan yang disukainya tidak diliriknya. Saya mulai maju mundur!

Saya berusaha tetap teguh! Mencari strategi lain, sehingga perut si kecil terisi makanan, minum bukan ASI. Hingga akhirnya saya dan keluarga harus melakukan perjalanan dalam mobil dan menginap di sebuah hotel. Konsentrasi mulai buyar dan strategi mulai runtuh tatkala si kecil meraung-raung dalam mobil tak berhenti.

Stop dulu Dek! Nasehat sekaligus perintah dari suami. Benar, tak tega dalam demamnya si kecil menangis meraung-raung. Menyerah dan akhirnya ASI menjadi pengantar tidur sekaligus penenang si kecil yang masih sakit. Praktis dua hari satu malam, selama di hotel dan perjalanan si kecil kembali meng-ASI. Ia mulai tampak sehat dan wajahnya cerah kembali.

Kembali ke rumah, mencoba memulai menyapih saat si kecil kembali sehat. Terasa berat! Ya, tangisan malam menjelang tidur semakin menjadi-jadi. Ia menjadi sulit sekali tidur jika tanpa ASI. Siang hari masih tetap bisa diatasi dengan mengajaknya makan, minum dan bermain sepuasnya tatkala teringat ASI. Tapi, malam hari belumlah tercapai! Ia tetap menagis dan menangis.

Akhirnya tiba saatnya berlibur ke Indonesia. Si Kecil belum selesai disapih. Saya beri ASI saat malam hari saja ketika sudah benar-benar tidak bisa tidur.

Menyapih Maksimal

Mengunjungi rumah nenek anak-anak dan suami pun otomatis liburan, adalah kesempatan besar untuk mulai menyapih si kecil dengan maksimal. Siang hari ia sudah terbiasa tanpa ASI, tinggal malam hari saja. Dan ini yang terberat.

Setelah menjalani cara, saya tetap mengeloni si kecil dengan berdoa, mendongeng dan bernyanyi sebelum tidur, tetap ASI yang dituju. Terlebih saat ia mulai menangis, menjerit-jerit.

Akhirnya, suami menyarankan pisah tidur!

Setiap malam, saya yang biasa mengeloni dan mendekap si kecil menjelang tidur. Kini, harus berpisah dan berusaha menutup telinga dan berusaha memejamkan mata setiap malam.

Ia masih terdengar menangis. Suami berusaha menenangkan, memberinya minum dan mengeloni. Sepanjang malam!

Saat saya tidak kuat, berusaha untuk mendekati si kecil. Tapi, dampaknya ia semakin menjerit dan minta dipeluk dan berikutnya minta ASI.
Diputuskan tetap pisah ranjang selama belum lupa ASI.

Saat suami kelelahan, nenek si kecil menggantikan. Saya hanya bisa berdoa dan menggantinya dengan bermain sepuasnya di siang hari dengannya.

Hampir satu minggu!

Si kecil tampak mulai tenang setiap malam. Ia mulai asyik bermain dengan suami mejelang tidur. Di tengah malam, terdengar tegukan si kecil minum dari gelas ditemani suami. Kami pun kembali terlelap dalam ruangan terpisah.

Melanjutkan Perjalanan

Saatnya melanjutkan perjalanan ke rumah Mbah anak-anak. Si kecil, anak keempat mulai menikmati hari. Termasuk malam hari. Saya tetap berusaha membuatnya tidak lapar dan tidak haus sepanjang hari dan menjelang tidur. Orangtua selalu berpesan untuk konsisten saat memulai proses menyapih. Jika ditengah proses berhenti, berakibat sulit lagi untuk memulai. Seringkali memerlukan energi dua kali lipat dibandingkan pertama kali memulai.

Berusaha konsisten pada minggu kedua proses sapih, masih di Indonesia. Semua berjalan sesuai rencana dan banyak yang mendukung. Sebelumnya nenek dan kakek, di sini Mbah, Bude dan para ponakan.

Sukses sebelum kembali ke Jepang. Ini adalah target kami. Alhamdulillah, selama di pesawat kali ini ia bebas ASI, usianya dua tahun satu bulan. Saya bahagia telah menjalankan amanah sesuai perintah-Nya. Dan sangat bahagia karena suami, seluruh keluarga turut mendukung mensukseskannya. Alhamdulillah.

(Ishikawa, k&y2014)